TERBONGKAR! Dana BOK Puskesmas Seputih Surabaya Tak Transparan, Kapus Ngaku Lupa Anggaran, Papan Informasi Beralasan Bubruk, Kader 30 Tahun Hanya Dapat Snack

*Seputih Surabaya, lantainewstv.com—Tim Investigasi LantainewsTV menemukan dugaan tidak transparannya pengelolaan Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) di UPTD Puskesmas Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah.

Kepala Puskesmas Seputih Surabaya, *I Gusti Made Yoga Astawa, SKM.M.Kes,* yang menjabat periode 2025-2026, saat dikonfirmasi terkait besaran dan penggunaan Dana BOK mengaku lupa dan tidak tahu.

“Dari tim investigasi LantainewsTV meminta kepada Kepala Puskesmas I Gusti Yoga, memang poksi bidang anggaran ujar Pak Kapus cukup dengan saya saja. Jadi kapan kita tanya dengan beralasan lupa,” ungkap Tim Investigasi di lapangan.

Lebih lanjut, saat ditanya terkait anggaran penyuluhan dan pelatihan, Kapus menyebut tidak ada anggaran dari Dana BOK.

Papan Informasi Anggaran Beralasan Bubruk

Kejanggalan lain, tidak adanya papan informasi transparansi anggaran Dana BOK yang seharusnya dipajang di dinding Puskesmas. Saat dikonfirmasi, Kapus berdalih papan nama bubruk (rubuh/rusak).

Padahal, keterbukaan informasi anggaran merupakan kewajiban badan publik sesuai UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Bidan Desa Hanya Rp 150 Ribu, Program Stunting Minim

Bidan Eka Yuli menjelaskan jadwal posyandu dalam 1 bulan 5 x pertemuan untuk balita dan gizi kurang. Untuk program stunting, tidak ada program khusus dari bidan desa.

“Ada Pak, disini 1 desa 5 dusun Pak, 5 kali posyandu pertemuan SPJ nya 150 ribu langsung tanda tangan,” ujar Bu Bidan Eka Yuli.

Sementara Kapus menyebut program esensial stunting hanya mencapai 20% dan berjalan sampai 56 hari ke desa-desa.

Kader Posyandu 30 Tahun Mengabdi: Miris

Bu Sumirah, kader Posyandu Gaya Baru 2 yang sudah 30 tahun mengabdi, mengaku untuk kegiatan dari Puskesmas pernah mendapat transport Rp 50 ribu di Puskesmas, kecamatan hanya diberi snack dan nasi kotak.

“Kalau tahun 2025 ada, 2026 belum ada bantuan PMT Pak,” ujar Bu Sumirah.

Hal serupa diungkapkan kader Posyandu Dusun 2, Ibu Sri, yang sudah 26 tahun menjabat. Di era kepemimpinan baru, 25 kader dikumpulkan di 5 titik tanpa transport, hanya snack dan nasi kotak, 1 kali pertemuan balita dan 1 kali lansia.

“Untuk tambah gizi atau vitamin balita tidak ada Pak,” keluhnya.

Diduga Tidak Transparan

Tim Investigasi menilai Kepala Puskesmas Seputih Surabaya tidak transparan dan ada yang ditutup-tutupi terkait pengelolaan anggaran Dana BOK, baik untuk insentif bidan desa, kader, maupun program esensial.

Hingga berita ini diturunkan, Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Tengah belum memberikan keterangan resmi.

[Tim Investigasi LantainewsTV]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *