
LAMPUNG TENGAH, Lantainewstv.com – TERBONGKAR HABIS! Dugaan pungli mobil pasir di Kampung Sriwijaya, Bandar Mataram, Lampung Tengah ternyata melibatkan _4 orang pekerja ibu-ibu sebagai buruh pungut.
Keempat pekerja tersebut adalah:
1. _Bu Bs_
2. _Bu Jb_
3. _Bu Sr_
4. _Bu Sp_
Keempatnya setiap hari bekerja mencegat truk muat pasir yang melintas di lokasi tumpukan batu. Setiap truk dipungut _Rp10.000 sampai Rp20.000._
_”Dari ibu ke Pak Poniran dengan cash 500rb pernah 700rb bahkan 400rb juga gak mesti,”_ ujar Bu Sp.
Uang cash Rp400.000 hingga Rp700.000 per hari tersebut disetor langsung ke pengelola bernama _Pak Poniran_.
Mirisnya, keempat ibu pekerja tersebut _hanya dibayar 15% dari pendapatan._
_”Kalau seratus ribu cuma lima belas. Lima belas persen? Iya,”_ akunya dalam video.
Jika setor Rp500.000/hari, mereka hanya dapat Rp75.000. Jika setor Rp700.000, hanya dapat Rp105.000. Harus panas-panasan seharian jaga 50-100 truk!
_HITUNGAN:_
50-100 truk x Rp10-20rb = _Rp500rb – Rp2 Juta/Hari_
Setoran cash ke Pak Poniran: _Rp400-700rb/Hari_
Sebulan: _Rp12 – 21 Juta_
Setahun: _Rp144 – 252 Juta RAIB!_
Sistem kerja mereka _sip 2 orang per hari,_ bergantian dari 4 pekerja tersebut.
Saat ditanya SK, keempat pekerja mengaku _TIDAK PUNYA SK._
_”Ya enggak tahu pak. Asal disuruh saja. Satu tahun kayaknya,”_ ujarnya.
Desa tersebut adalah _Desa Sriwijaya_ dengan Kades _Pak Pudin_. Saat dikonfirmasi, baik Pak Poniran maupun Kepala kampung Pak Pudin tidak ada di rumah, diduga menghindar.
Praktik tanpa SK dan tanpa Perkam ini diduga melanggar Perpres 87/2016 tentang Saber Pungli dan merupakan eksploitasi buruh.
Warga mendesak Saber Pungli Polres Lamteng segera periksa Pak Poniran dan Kades Pudin serta lindungi 4 ibu pekerja tersebut.
*Tim Investigasi Lantainewstv.com*