PENGANGKATAN SYAHGANDA NAINGGOLAN: BENTUK CACAT LOGIKA KEKUASAAN DAN PENGKHIANATAN TERHADAP ETIKA PERJUANGAN

SIARAN PERS RESMI

DPD BARISAN RELAWAN JALAN PERUBAHAN (BARA JP) LAMPUNG

Kekuasaan tanpa logika adalah anarki. Kekuasaan tanpa etika adalah pengkhianatan.

Hari ini kami menyaksikan cacat logika itu dipertontonkan secara telanjang. Negara yang dibangun dari keringat relawan, dari air mata emak-emak di TPS, dari uang recehan anak muda untuk kaos 02, tiba-tiba menyerahkan mimbar sucinya kepada orang yang kemarin meludahi mimbar itu.

Syahganda Nainggolan bukan orang baru. Rekam jejaknya adalah prasasti perlawanan:

*PERTAMA,* Dia adalah arsitek moral dari KAMI – Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia. Sebuah gerakan yang menjadikan Pemerintahan Joko Widodo sebagai musuh bersama, yang berakhir dengan vonis penjara di tahun 2021. Dia bukan pengkritik, dia adalah penantang kekuasaan yang sah.

*KEDUA,* Pada 2024, dia bukan penonton. Dia adalah jenderal lapangan bagi Anies Baswedan. Dia berdiri tegak di seberang kami. Dia berhadapan langsung dengan Prabowo-Gibran. Dia yang kami lawan di setiap perdebatan warung kopi.

*KETIGA,* Bahkan setelah kalah, dia tidak berhenti. Dia menyerang jantung kehormatan kami – kredibilitas personal Presiden Jokowi dan mempertanyakan keabsahan ijazah Wapres Gibran Rakabuming Raka secara brutal dan konsisten di ruang publik. Itu bukan kritik, itu fitnah yang dibungkus intelektualitas.

Maka ketika hari ini dia diangkat sebagai Kepala Badan Komunikasi Presiden, inilah ironi paling kejam dalam sejarah relawan modern: *Musuh diberi karpet merah, sementara prajurit dibiarkan berdiri di luar istana.*

Ini bukan politik akomodatif. Ini adalah *politik bunuh diri.*

Mengapa kami sebut politik bunuh diri? Karena tiga racunnya akan membunuh kekuasaan dari dalam:

*1. Racun Pertama: Pembunuhan Makna Pengorbanan.*
Filsafat kekuasaan berkata, loyalitas harus dibayar dengan kehormatan. Ketika seseorang yang dulu menggerus kekuasaan tiba-tiba diberi mahkota, maka Anda baru saja mengatakan kepada jutaan relawan: “Pengorbanan kalian tidak ada harganya.” Kalian yang bertaruh nyawa, waktu, dan harta, kalah nilainya dengan satu orang yang pandai memaki. Ini adalah devaluasi moral paling brutal.

*2. Racun Kedua: Invers Etika – Kejahatan Menjadi Investasi.*
Dalam logika sesat ini, Anda mengajarkan rakyat sebuah pelajaran sesat: Untuk dapat jabatan di negeri ini, menyeranglah lebih keras, fitnahlah lebih kejam. Karena semakin keras kau menyerang penguasa hari ini, semakin besar peluangmu dipanggil ke Istana esok hari. Kesetiaan menjadi kebodohan, dan pengkhianatan menjadi strategi karir. Ini adalah krisis moral yang akan melahirkan generasi penjilat yang menyamar sebagai pengkritik.

*3. Racun Ketiga: Duri Dalam Daging – Musuh Dalam Selimut.*
Jabatan Kepala Badan Komunikasi Presiden bukanlah jabatan staf. Itu adalah MULUT PRESIDEN. Itu adalah Menteri Penerangan di era Prabowo. Dia yang menentukan apa yang didengar rakyat dari Presidennya. Menempatkan orang yang secara ideologis menolak Asta Cita, yang membenci Jokowi dan meragukan Gibran, sama saja Anda menaruh racun di kendi air minum Anda sendiri. Hari ini dia tersenyum, besok dia yang akan membocorkan perahu dari dalam.

Bara JP Lampung tidak akan diam melihat logika kekuasaan diperkosa seperti ini.

Oleh karena itu, kami *FAISOL SANJAYA* atas nama DPD Bara JP Lampung, dengan ini *MENDESAK:*

*1. Presiden Prabowo Subianto segera MENCABUT SK Pengangkatan Syahganda Nainggolan.* Jangan biarkan satu keputusan yang salah menghapus air mata jutaan relawan.

*2. Buka ke publik, siapa yang meng-endorse nama ini?* Rakyat berhak tahu, makelar politik mana yang menjual Istana kepada oposisi?

*3. Kembalikan marwah Istana kepada para penjaganya.* Jika ingin merangkul, rangkullah rakyat kecil, bukan elit oposisi yang kalah dan haus jabatan.

Ingatlah, sejarah tidak pernah mencatat penguasa yang besar karena merangkul musuhnya sambil menginjak teman seperjuangannya.

*Kekuasaan yang melupakan siapa yang membawanya ke puncak, adalah kekuasaan yang sedang menggali kuburnya sendiri.*

Bandar Lampung, 3 Oktober 2026

Atas Nama Perjuangan Yang Dikhianati,

*FAISOL SANJAYA*
Ketua DPD Bara JP Provinsi Lampung

—

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *