
Merasa menjadi Guru atau mungkin Maha Guru hendaknya mengajarkan Hal yang baik,jauh dari kebohongan,dan mengajarkan trik – trik yang menghalalkan segala cara untuk Menang dan menutupi kebusukan.bahkan berkarakter layaknya Sengkuni (atau Sangkuni) adalah tokoh antagonis dalam wiracarita Mahabharata yang terkenal licik, manipulatif, dan suka menghasut untuk memecah belah dan mencelakai orang lain, terutama para Pandawa demi kepentingan para Kurawa. Ia dikenal sebagai personifikasi dari kekacauan dan sering dijadikan analogi modern untuk politikus atau tokoh yang licik serta memanipulasi untuk kekuasaan.
Siapa Sengkuni?
Tokoh Mahabharata: Ia adalah paman para Korawa dan adik dari Gandari, ibu para Korawa.
Patih Hastinapura: Dalam pewayangan Jawa, ia diangkat menjadi patih di Kerajaan Hastina.
Ahli Manipulasi: Sengkuni ahli dalam berbicara, pandai bicara manis namun beracun, dan memiliki kemampuan analisis tajam untuk merancang strategi licik.
Peran dan Dampak Sengkuni
Pemantik Perang: Ia berperan besar dalam mengadu domba antara Pandawa dan Kurawa, yang akhirnya memicu Perang Bharatayudha.
Dalang Permainan Dadu: Sengkuni mengatur dan memanipulasi permainan dadu yang menyebabkan Pandawa kehilangan kerajaan mereka.
Penyebab Kekacauan: Ia merupakan simbol dari ego yang tidak terkendali dan obsesi terhadap kekuasaan yang mendorongnya melakukan segala cara untuk mencapai tujuan.
Makna Sengkuni dalam Konteks Modern
Metafora Politik: Dalam politik modern, Sengkuni digunakan untuk menggambarkan tokoh atau politikus yang licik, suka mengadu domba, menyebarkan hoaks, dan melakukan black campaign.
Cerminan Sifat Manusia: Ia juga mengajarkan tentang sisi jahat manusia dan hasrat untuk berkuasa, serta pentingnya pengendalian diri dan bertindak bijak.
Jika Gurunya punya Karakter Sengkuni tidak heran kalau Muridnya jadi pengabdi Dajal dan berperilaku seperti Dajal yang suka sekali memecah belah dan memutarbalikkan Fakta yang selalu merasa benar Sendiri dan menurutnya kebenaran hanya miliknya.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah menjelaskan beberapa hal mengenai adab-adab seorang guru. Antara lain ihtimal (banyak sabar menanggung kesulitan), lambat marah (tidak mudah marah), duduk dengan haibah atau kelakuan yang tetap serta menundukkan kepala, meninggalkan takabur atas sekalian hamba Allah kecuali terhadap orang yang zalim karena dapat mencegahkannya dari kezaliman.
Kemudian, seorang guru juga dinilai harus memilih tawadhu, yaknimerendahkan diri pada perhimpunan orang ramai dan pada majelis orang ramai. Guru juga sebaiknya meninggalkan bergurau dan bermain-main, memberi kasih sayang dengan murid, lemah lembut dengan murid yang kurang pandai, membimbing murid yang bebal, tidak memarahi murid yang bodoh, serta tidak malu berkata tidak tahu apabila ada suatu ilmu yang tidak ia ketahui.
Tak hanya itu, Imam Al-Ghazali menekankan bahwa seorang guru juga perlu memberikan perhatian kepada murid yang bertanya dan mencoba memahami persoalan dengan baik, menerima hujjah atau dalil yang dihadapkan padanya, tunduk kepada kebenaran, dan merlarang murid dari ilmu yang bisa jadi menghadirkan mudharat baginya.
Peranan guru dengan adabnya sangat penting menurut Imam Al-Ghazali. Bahkan dikatakan bahwa guru juga harus bersikap melarang murid apabila sang murid mengehndaki yang lain dari Allah dengan ilmunya. Kemudian seorang guru juga perlu melarang murid dai menuntut ilmu yang sifatnya fardhu kifayah sebelum selesai dari menuntut ilmu yang sifatnya fardhu ain.
Adapun ilmu yang sifatnya fardhu ain adalah yang berkenaan dengan membaikkan yang zahir dan batin dengan takwa. Imam Al-Ghazali menambahkan, seorang guru juga perlu memperbaiki diri sendiri dengan takwa sebelum ia memerintahkan orang lain. Hal itu agar muridnya dapat mencontoh amalannya dan mengambil manfaat dari ilmunya.
(Edo Murtadho.SH)